Skip navigation

Ujian nasional merupakan fenomena tersendiri, bukan karena proses ujiannya karena anak-anak murid sudah sangat biasa dengan ujian. UN menjadi masalah karena bahwa anak sangat ingin lulus dan melanjutkan pendidikan yang sebanarnya menjadi hak mereka sebagai warga negara. Dalam hal ini, pendidikan yang berdurasi bertahun-tahun tersebut menjadi tidak ada harganya pada posisi manapun mereka tidak lulus. Anak SMU tidak ada gunanya belajar 12 tahun dengan pengorbanan yang tidak sedikit dari dirinya dan keluarga hanya karena UN.

Standarisasi yang merupakan alasan utama pemerintah adalah baik, tapi apa manfaat standarisasi tersebut. anak SMU yang lulus tetap harus ujian masuk perguruan tinggi demikian juga bagi anak yang mau masuk SMU dan SMP. Artinya standarisasi nasional tidak lebih penting dari standarisasi Lokal. Terus apa maksudnya standarisasi tersebut? Alasan lain adalah memang tidak sama pendidikan pada masing-masing sekolah. Dalam satu sekolah saja ada beberapa macam pendidikan ada yang reguler, bilingual, akselerasi. Nah gimana itu? Belum lagi perbedaan kota dan daerah, jawa dan luar jawa. Sementara ada sekolah yang bertingkat di perkotaan, didaerah ditemukan sekolah yang atapnya masih bocor. Sementara di kota banyak guru yang mengajar untuk satu mata pelajaran. Didaerah, satu guru mengajar beberapa mata pelajaran. Gimana standarisasinya itu?

Beban Guru, murid dan orang tua menjadi sangat berat dengan UN. Guru akan bertanggung-jawab terhadap reputasi sekolah. Jika sekolah tersebut menghasilkan ketidaklulusan maka alamat tidak akan mendapat siswa dan memalukan nama sekolah. Pantaskah itu? Akhirnya cara apapun ditempuh agar sekolah dapat meluluskan seratus persen anak muridnya. Daerah yang rendah tingkat kelulusannyapun akan memalukan pemerintah setempat. Ada budaya malu yang tidak proporsional disini. Dan itu juga karena hasil pendidikan.

Murid dan orang tua sangat kelabakan mengantisipasi UN, apapun cara untuk memaksa anak belajar dan belajar dilakukan. ” Malu klo gak lulus” menjadi jargon utama, yang terus memaksa anak menghabiskan waktu-waktunya untuk melapah pelajaran. Tak jarang ada yang putus asa dan bunuh diri. ” Anak si Anu gak lulus” menjadi gosip hangat.

Kesempatan bisnispun timbul dan segera diambil, buku-buku tentang UN bertebaran di toko buku, les-les marak menyediakan injeksi pengetahuan ke pada anak-anak. Dalam tahap ini UN menjadi komersial. Hal-hal tersebut tidak akan mampu diikuti oleh sebagian besar rakyat Indonesia yang miskin. Maka tertinggallah mereka dibelakang, dan kemiskinan akan terus beratambah. Bayangkan saja bimbingan belajar rata-rata berharga sejuta rupiah per semester. Itupun berkelas-kelas, ada yang reguler, kilat, kilat khusus sampai yang kelas VIP. Disini juga UN menambah ketidakefisienan pendidikan.

UN penting? itu benar. Yang tidak benar adalah hak UN untuk tidak meluluskan. Apapun hasil dari seorang murid adalah pencapaiannya dalam sekolah dan juga merupakan hasil kerjasama kolektif seluruh komponen pendidikan. Kalau anak tidak lulus, maka tanggung jawab hanya pada anak dan orang tua murid, lalu kemana tanggung jawab guru, sekolah, pemerintah?

Negara maju saja tidak seperti ini. Model Inggris mungkin bagus untuk ditiru asal tidak merasa gengsi untuk mengambil apa yang bermanfaat bagi bangsa ini. Ah…kok nggurui….yang professor dah banyak di negeri ini cuma pura-pura gak tau aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: